11 October 2014

Penduduk, Masyarakat, dan Budaya



Makalah
PENDUDUK, MASYARAKAT, DAN BUDAYA
Diajukan sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Ilmu Sosial Budaya Dasar



Disusun Oleh :
Nama         : Linda Dwi Novianti
Kelas          : 1IA11
NPM           : 56414079
E-mail        : lindadn16@gmail.com
Dosen        : Lukman Ihwana


Program Studi S1 Teknik Informatika
UNIVERSITAS GUNADARMA
       
BAB. I
PENDAHULUAN

1.1.           Latar Belakang
Penduduk, masyarakat, dan budaya merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan. Ketiganya seperti life cycle yang berkaitan erat satu sama lain. Dalam kehidupan, secara langsung maupun tidak penduduk dan masyarakat menciptakan suatu budaya. Dan budaya itu sendiri dijadikan suatu pedoman serta acuan dalam menjalani kehidupan seorang individu. Budaya juga lah yang mempengaruhi baik buruknya kehidupan mesyarakat.
Dewasa ini, arus globalisasi semakin meluas. Tak dapat dipungkiri, penduduk dan masyarakat semakin banyak menciptakan budaya yang beragam. Sehingga budaya yang terbentuk tersebut tersebar lagi ke masyarakat luas hingga ke seluruh dunia sehingga mempengaruhi kebiasaan dan gaya hidup mereka pada umumnya.
1.2.           Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mempelajari penduduk dan masyarakat serta budayanya. Sehingga diharapkan pembaca dapat menyaring budaya yang masuk.


BAB. II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Penduduk, Masyarakat, dan Budaya
2.1.1. Pengertian Penduduk
Penduduk atau warga suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua:
-     Orang yang tinggal di daerah tersebut
-     Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain.
Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu.

2.1.2.     Pengertian Masyarakat
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.

2.1.3.     Pengertian Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Jadi, Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Pengertian kebudayaan Menurut Beberapa Ahli
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

2.2.         Keterkaitan Penduduk, Masyarakat, dan Budaya
Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Penduduk, masyarakat dan kebudayaan mempunyai hubungan yang erat antara satu sama lainnya. Dimana penduduk adalah sekumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. Sedangkan masyarakat merupakan sekumpulan penduduk yang saling berinteraksi dalam suatu wilayah tertentu dan terikat oleh peraturan – peraturan yang berlaku di dalam wilayah tersebut. Masyarakat tersebutlah yang menciptakan dan melestarikan kebudayaan; baik yang mereka dapat dari nenek moyang mereka ataupun kebudayaan baru yang tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Oleh karena itu penduduk, masyarakat dan kebudayaan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan sendiri berarti hasil karya manusia untuk melangsungkan ataupun melengkapi kebutuhan hidupnya yang kemudian menjadi sesuatu yang melekat dan menjadi ciri khas dari pada manusia ( masyarakat ) tersebut.
Masyarakat dan kebudayaan terus berkembang dari masa ke masa. Pada zaman dahulu, manusia hidup berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, masyarakat yang hidup dalam keadaan yang seperti ini disebut dengan masyarakat nomaden. Mereka berpindah ke tempat lain jika bahan makanan yang ada di derah mereka telah habis. Namun, seiring dengan waktu mereka mulai belajar untuk melestarikan daerah di mana mereka tinggal. Mereka mulai bercocok tanam dan berternak untuk melangsungkan kehidupan mereka.
Masyarakat zaman dahulupun meninggalkan hasil kebudayaan yang beraneka ragam, mulai dari peralatan, bahasa, lagu, bangunan – bangunan, hingga berbagai macam upacara adat. Hasil kebudayan pada zaman prasejarah merupakan benda – benda tua yang terbuat dari batu – batu alam dan tulang – tulang binatang. Alat – alat tersebut mereka ciptakan untuk berburu binatang.
Pada zaman purba, masyarakat mulai tumbuh dan berkembang beserta dengan tumbuhnya peraturan – peraturan yang berlaku dan mengikat keberadaan masyarakat tersebut. Mereka hidup di bawah pimpinan raja yang berkuasa. Mereka juga mulai mengenal tulisan. Pada zaman ini masyarakat mulai mengenal suatu kepercayaan yang lebih jelas jika dibandingkan dengan masyarakat yang hidup pada zaman sebelumnya. Mereka yang dulu hidup dengan menyembah batu dan pepohonan besar kini mulai menyembah apa yang mereka sebut sebagai Tuhan.
Kebudayaan sendiri sebenarnya bergantung kepada bagaimana masyarakat itu tinggal dan berkomunikasi dengan sesamanya. Dengan demikian setiap Negara memiliki kebudayaan yang berbeda. Kebudayaan tidak akan pernah berhenti untuk berkembang selama masyarakat terus berkembang dan belajar demi kelangsungan hidupnya.

          2.3.          Penduduk, Masyarakat, dan Budaya di Perkotaan dan Pedesaan
Sebelumnya telah dijelaskan keterkaitan antara penduduk, masyarakat, dan budaya. Dan dari waktu ke waktu kebudayaan mengalami perkembangan sesuai pemikiran manusia. Budaya masyarakat di pedesaan dengan di perkotaan juga tidaklah sama. Budaya masyarakat di perkotaan cenderung lebih maju dibanding budaya masyarakat di pedesaan. Contohnya saja antara Daerah Ibu Kota Jakarta dengan Irian Jaya, Papua. Budaya masyarakat kota Jakarta sudah sangat modern. Teknologi dimana-mana. Semua serba mudah untuk dilakukan. Namun sayangnya budaya leluhur sudah mulai luntur tergantikan dengan budaya barat yang semakin merajalela. Adat ketimuran sudah jarang sekali diterapkan. Sementara di Irian Jaya sana, tergolong masih sangat sederhana. Mereka masih memegang teguh budaya leluhur mereka. Kebudayaan tradisional masih sangat kental terasa. Sehingga kearifan budaya local masih terjaga dengan sangat baik.


2.4.          Dampak Positif dan Negatif dari Perkembangan Budaya bagi Masyarakat
2.4.1.  Dampak positif
1. Mengenal budaya lain lebih jauh lagi,
2. Menambah pengetahuan,
3. Komunikasi berjalan lancar,
4. Munculnya sikap selektif terhadap budaya yang masuk.
 Contohnya : Dulu hanya mengenal budaya dari negara sendiri, tapi sekarang seiring berjalannya waktu kita jadi lebih mengenal budaya-budaya dari negara asing.

2.4.2. Dampak negatif
1. Menjadi konsumtif,
2. Lupa akan budaya sendiri,
3. Mudahnya terpengaruh akan budaya lain,
4. Menjadi individualisme yang tinggi.
Contonya : Karena kita telah mengenal budaya asing jika tidak selektif, maka kita akan terus tergantung dengan budaya lain dan melupakan budaya sendiri


BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan


Sehingga dapat disimpulkan bahwa budaya mampu mempengaruhi kehidupan manusia. Banyak sekali dampak positif serta negatif dari perkembangan budaya tersebut bagi masyarakat. Oleh karena itu marilah kita antisipasi dampak negatif yang ditimbulkannya dengan mulai mencintai budaya negara kita sendiri. Budaya tradisional kita juga tak kalah menarik dan bermartabatnya di kalangan dunia. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa. Selain itu, kita juga harus lebih selektif dalam menerima pengaruh dari  kebudayaan barat. Tidak lupa juga, tanamkan ajaran-ajaran agama dengan sebaik-baiknya agar kita dapat terhindar dari pengaruh negatif yang ditimbulkannya.

DAFTAR PUSTAKA

0 komentar:

Post a Comment