Ketegaran itu
perlahan terpupuk. Ia terus tumbuh menjadi besar di dalam jiwa. Memantapkan
setiap langkah. Air mata sudah jarang terlihat. Kini, hanya senyum penuh
harapan yang sering kali nampak. Jati diri sudah mulai terbentuk. Polesan
sederhana kepercayaan diri turut menjadi penyempurna.
Penghakiman dari luar dijadikan penguat mental. Membuka telinga untuk mendengar hujatan. Menutup telinga untuk mendengar pujian. Terus berusaha menjadi yang lebih baik tanpa lupa untuk bersyukur. Mata tetap dijadikan untuk melihat yang di atas, di bawah, di depan, dan di belakang. Sebagai penyemangat, sebagai rasa syukur, sebagai tujuan, dan sebagai pelajaran.
Pintar, tetapi
tidak pernah merasa dirinya pintar. Itulah caranya agar tidak menjadi besar
kepala. Tetap rendah hati tanpa harus malu untuk berbagi. Tidak bodoh, tetapi
tetap merasa dirinya lebih bodoh dari yang lain. Itulah caranya agar bertambah
ilmunya. Mau belajar dan membuat karya tanpa harus malu untuk bertanya.
Semangat membahagiakan
mereka yang telah berusaha membahagiakan. Berdoa untuk mereka yang telah mendoakan.
Tidak akan pernah berhenti hingga dunia telah berganti. Menumpukan semua harapan
pada-Nya. Tak perlu ditanya seberapa
besar usaha dan doa. Cukup hanya Dia yang tahu. Yang terpenting adalah percaya
bahwa usaha, doa, dan harapan itu akan dibalas oleh-Nya.

0 komentar:
Post a Comment