Man Jadda Wajada
(Siapa
yang Bersungguh-Sungguh Pasti Akan Berhasil)
Identitas
buku :
·
Judul buku : Negeri 5 Menara
·
Penulis : Ahmad Fuadi
·
Penerbit : PT Gramedia Pustaka
Utama
·
Tahun terbit : 2011, cetakan ke-11
·
Tempat terbit : Kompas Gramedia Building
·
Tebal : 423 halaman
·
Harga : Rp. 55.000,00
Novel Negeri 5 Menara merupakan
buku pertama dari sebuah trilogi. Novel ini terinspirasi dari kehidupan sang
penulis yaitu Ahmad Fuadi. Beliau adalah mantan wartawan TEMPO & VAO,
penerima 8 beasiswa luar negeri, penyuka fotografi, dan terakhir menjadi direktur
komunikasi di sebuah NGO konservasi. Alumni Pondok Modern Gontor of London ini
meniatkan sebagian Royalti trilogi ini untuk membangun Komunitas Menara, sebuah
lembaga sosial untuk membantu pendidikan orang yang tidak mampu dengan basis
sukarelawan.
Novel Negeri 5 Menara ini berkisah tentang perjuangan seorang remaja yang sangat pandai bernama Alif Fikri. Alif berasal dari Maninjau, Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia dan teman baiknya, Randai mempunyai cita-cita yang sama, yaitu masuk SMA terbaik di Bukittinggi lalu melanjutkan studi di ITB. Mereka ingin menjadi seperti Habibie. Selama ini mereka bersekolah di madrasah atau sekolah agama Islam. Mereka merasa sudah cukup menerima ajaran Islam dan ingin menikmati masa remaja mereka seperti remaja lainnya di SMA. Namun ibunya tidak setuju dengan keinginan Alif masuk SMA, ibunya ingin Alif menjadi Buya Hamka, yaitu ulama atau tokoh agama di Bukitinggi dan melanjutkan sekolah ke pondok pesantren. Karena alif tidak ingin mengecewakan harapan orang tua terutama ibunya, Alif pun menjalankan keinginan ibunya dan masuk pondok. Atas saran dari pamannya, Alif pun memutuskan untuk melanjutkan sekolah di pondok peantren yang ada di Jawa Timur yaitu PONDOK MADANI.
Berbeda dari
sekolah-sekolah lain, di sini para murid dilatih untuk menjadi intelektual dan
mampu menganalisa berbagai ilmu dari sudut pandang Islam. Sehari-harinya mereka
wajib menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Jika melanggar, tidak mungkin
tidak terlepas dari hukuman. PM sangat ketat dengan pengawasan dan
kedisiplinannya.
Di Pondok Madani, Alif terkesima
dengan mantra sakti “Man Jadda Wajada”. Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti
akan berhasil. Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dengan Raja
dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan
Baso dari Gowa. Mereka berenam kerap menyebut diri mereka “Sahibul Menara”,
artinya yang mempunyai menara. Mereka memang sering berkumpul di bawah menara
masjid PM sembari menunggu adzan Maghrib. Di bawah menara, mereka melukiskan
awan-awan jingga yang tersapu lembayung itu menjadi negara dan benua impian. Negara
yang ingin mereka singgahi nanti. Ke mana impian membawa mereka? Mereka tidak
tahu. Yang ereka tahu adalah jangan pernah remehkan impian, walau setinggi
apapun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.
Awalnya, Alif memang
setengah hati menjalankan pendidikan di PM. Tetapi, lama-kelamaan ia sudah
terbiasa. Bahkan, sekarang PM sudah menjadi rumah yang nyaman untuk ditempati.
Teman, guru, dan senior pun sudah seperti keluarga sendiri. Kepergian salah
satu teman mereka untuk tidak melanjutkan pendidikan di PM pun menguras
kesedihan di hati mereka. Baso, seseorang yang sangat rajin dan pandai tidak
dapat melanjutkan sekolahnya karena keluarga satu-satunya yaitu neneknya sedang
sakit keras. Hal ini, menumbuhkan semangat para sahibul menara untuk tetap
bertahan di PM hingga lulus.
Selain bercerita
tentang perjuangan dan persahabatan, novel ini juga bercerita tentang keikhlasan. Keikhlasan
seorang guru untuk mendidik muridnya tanpa menerima gaji sepeserpun, keikhlasan
seorang murid untuk mau dididik, keikhlasan seorang murid dalam berjuang
menghadapi ujian-ujian dan keikhlasan seseorang menjadi pemimpin dan dipimpin.
Semuanya merujuk pada satu kata yaitu IKHLAS.
Secara umum, novel ini
sangat bermanfaat untuk semua kalangan karena ceritanya yang menarik dan dapat
memberikan pencerahan kepada pembaca, bahwa jangan pernah remehkan mimpi.
Karena dengan tekad dan perjuangan yang sungguh-sungguh, mimpi itu dapat terwujud.
Gaya bahasa yang digunakan pun ringan sehingga mudah dipahami dan tidak membuat
pembaca bosan. Novel ini juga membuat pembaca cepat masuk kedalam cerita.
Namun, di samping itu
alur yang digunakan adalah alur campuran. Sehingga ceritanya menjadi sedikit
rumit dan agak berbelit-belit.


0 komentar:
Post a Comment